Doa batiniah pada hidup para Kapusin pertama

Sesuai konstitusi tahun 1536

1. Optatus Kapusin,

Franciscus en Jezus alhmarum yg luhur, pada tahun 1965 sudah mengurai tentang reformasi para kapusin: "Yang menonjol di dalam aturan paling awal (dari tahun 1536) bukanlah kesetiaan mereka kepada Injil dan Aturan mereka secara hurufiah; yang menonjol adalah yang sangat berusahanya untuk menjiwai penghayatannya secara hurufiah itu dengan Semangat Kristus sebagaimana kita ketemu di dalam Injil". Soalnya benar-benar tertuju kepada pelaksanaan dan penghayatan, tertuju kepada suatu gerakan baru di kalangan para saudara hina-dina yang tersentuh oleh Roh. Di dalam seluruh konstitusi tahun 1536 terasalah berkobarnya Semangat yang membawa hidup itu. Pada prakata dapat kita baca bahwa Konstitusi itu dirancang untuk melindungi saudara-saudara terhadap "segala musuh terhadap Semangat Tuhan Yesus Kristus yang membawa hidup" (1)
Di bagian tertentu dari konstitusi tsb terdapat uraian mengenai pendidikan para siswa frater; di situ mereka diajak dengan studinya menemukan kasih setia Kristus yang menerangkan dan mengobarkan. Mereka jangan sedemikian terpukau di dalam studinya sehingga mereka melalaikan studinya yang suci; yaitu studi doa. Kalau tidak, maka mereka akan bertolak belakang dengan tujuan Franciscus yang tidak ingin orang meninggalkan doa suci itu disebabkan suatu studi.
"Supaya bisa dapat memiliki Semangat Kristus" demikianlah lanjutannya di konstitusi,
"maka baik para lektor maupun para siswa berusaha keras untuk lebih banyak memperhatikan studi 'rohaniah' daripada studi 'ilmiah'. Makin mereka lebih menujui Rohaniahnya daripada hurufiahnya maka makin mereka memperoleh manfaat studinya. Kan tanpa rohaniahnya orang tak akan pernah sampai artinya pada hakekatnya. Orang tinggal pada huruf hampa yang membutakan dan mematikan"( nr. 123)

2. Dalam hal ini kapusin-kapusin pertama dengan tegas berpendapat seperti Fransiskus.

Dalam suratnya kepada lektor pertamanya Antonius dia tulis:
"Kepada saudara Antonius, uskupku, Fransiskus menyampaikan salam sejahtera. Saya menyetujui Anda mengajar ilmu ketuhanan suci itu kepada saudara-saudara, dengan syarat bahwa Anda dalam pengajaran ini tidak memadamkan semangat berdoa dan ketulusan hatinya seperti tercantum di dalam aturan" (2)
Dan di aturan memang tertulis:
"Saudara-saudara yang dikaruniakan Tuhan untuk bekerja, hendaknya mereka bekerja dengan setia dan tulus hati. Hendaknya mereka bekerja sedemikian sehingga mereka menghindarkan kekosongan, musuh jiwa itu, dan tidak memadamkan semangat berdoa dan keihlasan. Karena segala hal di dunia harus tertuju kepadanya" (3)
Ini berarti terutama bahwasanya hidup para saudara hina-dina ciri khasnya adalah Semangat berdoa dan ketulusan hati.
Namun Fransiskus secara tidak langsung juga menunjukkan risiko yang kita ambil. Kita bisa saja hidup, berstudi, bekerja dan malah merasul dengan cara yang memadamkan semangat yang suci itu. Di kedua-duanya uraian tersebut di atas ini Fransiskus menyingung hayat 5, 19 dari I Tessalonika di mana terurai: "Jangan padamkan Semangat" Di sini Semangat tertulis dengan huruf besar. Ini juga terdapat pada uraian-uraian Fransiskus. Maka seorang saudara hina dina wajarlah selalu hidup sesuai dorongan Semangat kudus itu. Lagi pula pengertian "toewijding" yang dipakai Fransiskus, berarti lain dari pada kita biasa memakainya.Ketulusan (toewijding) bukanlah terhadap pekerjaan, rajinnya dan mengabdikan diri, melainkan ketulusan hati terhadap Tuhan. Di tata hidup saudara-saudara hina-dina, maka ketulusan dan doa itu menentukan segala- galanya; demikianlah saya baca suatu catatan kaki halaman dari ⁅ De Geschriften van Franciscus’ (4) Maka berdoa dan hidup kontemplatif berkedudukan istimewa, baik pada Fransiskus sendiri maupun pada para kapusin pertama, juga demikian di de Nederlanden. Demikianlah kesimpulan Optatus sudah sejak 1948. (5)

3.Nilai-nilai doa batiniah pada generasi pertama dari para kapusin.

3.1.
Pada konstitusi 1536 dibicarakan tentang mendoakan Ofisi Ilahi; sepintaslalu disertakan suatu catatan yang sangat berarti; dari situ dapat diketahui bahwasanya doa batiniah itu diangapnya sangat bernilai. Pada nr. 42 kita baca:
"Tiada ofisi lain akan ditambahkan di ruang ofisi, kecuali ofisi Bunda Maria, agar supaya saudara saudara mempunyai lebih banyak waktu untuk doa batiniah; itu jauh lebih subur dari pada doa bibir" Selaras dengan penilaian tersebut dan diutamakannya doa batiniah, maka pada konstitusi dengan jelas menyediakan dua jam di tata harian untuk doa batiniah bersama. Sehubungan dengan itu ada catatan yang lucu tetapi sangat jelas yaitu bahwasanya aturan tersebut diperuntukkan kepada saudara saudara yang malas dalam hidup rohaniahnya; saudara dina yang benar-benar bersifat rohaniah 'kan "selalu berdoa."
Berikut ini naskah yang asli dari konstitusi:
"Dan karena doa itu adalah guru rohaniah, dan supaya semangat keihlasan saudara saudara tidak melesu, maka, sesuai keinginan Bapa Serafin, kami menetapkan, meskipun saudara dina yang benar-benar bersifat rohaniah selalu berdoa, agar supaya ditentukan dua jam khususnya untuk doa batiniah, biarpun demi saudara saudara yang malas dalam hidup rohaniahnya." (nr 41)
3.2.
Pada penjelasan prinsipiil dari reformasi kapusin, pada awal konstitusinya, kelihatan dengan jelas hal hal yang mana dipusatkan pada pembacaan rohaniah dan doa batiniah saudara saudara. Bunyinya:
"Terlebih dahulu kami memukakan bahwasanya ajaran injili dari surga disampaikan kepada kita oleh Putera Allah yang terkasih. Ajaran injili ini, tulen, adikodrati, sempurna dan ilahi, diwartakan oleh Dia sendiri dan diajarkannya dengan hihupNya dan tuturNya. Itu malah dinyatakan sebagai yang otentik oleh Allah Bapa di sungai Jordan dan di gunung Tabor, waktu Dia bertitah: 'Inilah puteraku yang terkasih, yang berkenan kepadaKu. Dengarkanlah Dia."
Hanya ajaran injili ini secara langsung menunjukkan kepada kita jalan menuju Tuhan. Jika semua orang berwajib menempuhi jalan tersebut, maka lebih-lebihlah kita saudara-saudara dina. Santo Fransiskus 'kan menyampaikan pada awal dan pada akhir Aturannya bahwa kita seyogyanya mematuhi Injil suci itu.. "Aturan" 'kan tidak lain dan tidak bukan adalah intisari dari Injil, sebuah cermin kecil, yang memantulkan kesempurnaan injili.
Di dalam Surat Warisannya Fransiskus mengatakan juga bahwasanya telah diilhamkan kepadanya agar menjadikan hidupnya sesuai Injil yang suci. Maka saudara-saudara hendaknya selalu teringat akan ajaran dan cara hidup Penebus kita Yesus Kristus.
‘Dan agar supaya mereka membawa Injil suci itu di dalam hatinya..., maka kami menetapkan, demi kehormatan bagi Tritunggal yang mahatinggi, bahwasanya ke empat Injil itu hendaknya dibacakan tiga kali setahun, yaitu setiap bulan satu Injil.’ (nr. 1 ) Selain dari bacaan Injil setiap hari dan bacaan Aturan setiap minggu, maka hendaknya dibacakan suatu naskah bagi saudara-saudara agar mereka terdorong untuk mengikuti Kristus yang disalibkan (nr. 2 ) " Dan seyogyanya saudara-saudara hendaknya selalu berusaha berbicara tentang Tuhan. Itu akan sangat membantu mereka menyalakan api cintakasih dalam hati mereka terhadapNya.." (nr. 3)
Juga ditentukan agar saudara-saudara secara pribadi membaca kitab suci yang berkomentar dari guru-guru yang kudus dan saleh; motivasinya adalah bahwasanya "... api kobaran cintakasih ilahi berasal dari terang hal-hal ilahi..." (nr. 4)
Semangat dan penerangan tersebut juga terjangkau bagi saudara-saudara yang sederhana dan kurang terpelajar; karena bagi kita kebijaksanaan ilahi telah menjadi dekat dalam diri Yesus Kristus. Sungguh itu tidak hanya bagi saudara-saudara yang terpelajar. Terkurung: sejumlah besar saudara-saudara tanpa tahbisan kudus di kalangan ordo kita merupakan bukti yang nyata.! Menurut konstitusi bunyinya begini: "Kebijaksanaan ilahi itu misterius dan tak terjangkau; namun dia di dalam diri Kristus Penebus kita telah menurun sedemikian, sehingga yang sederhana dan yang kurang terpelajar dapat mengertinya; berkat hanya mata iman yang sederhana, yang masih murni, tak bercacat." (nr. 4)
3.3.
Di hidup-berdoa dan di bacaan-rohaniah dari saudara-saudara kapusin pertama, maka Injil dan Yesus Kristus sendiri menduduki tempat yang sentral. Maka logis jika pada khotbah mereka Injil dan pribadi Yesus merupakan bahan pokok. Pilihan mereka dalam hal ini sangat sadar dan radikal. Begitulah dapat kita baca pada konstitusi:
"Maka, agar supaya dapat menitikberatkan pedoman dan aturan yang harus dijadikan pegangan bagi para pengkhotbah, agar mereka lebih pantas mewartakan Kristus yg telah disalibkan, agar mereka mewartakan Kerajaan Allah, dan rajin berusaha untuk pertobatan dan keselamatan jiwa, maka kami menentukan dan kami perintahkan, agar supaya mereka dalam khotbahnya menggunakan Kitab suci, lebih-lebih perjanjian baru dan terutama Injil yang suci, supaya kita selaku pengkhotbah-penghotbah Injili juga menjadikan rakyat itu memahami Injil. Pendirian ini kami kini mengulanginya, dan dengan demikian memperkuatkannya." (nr.117)
Pada konstitusi yang sama terurai dengan sangat jelas bahwa berkotbah bagi para kapusin tak lain dan tak bukan adalah mengemukakan Kristus yang mereka ketemu dalam doa batiniah.Yang berikut dapat kita baca:
"Tuturan yang rumit dan berbunyi sandiwara-sandiwaraan itu tidak selaras dengan Kristus yang merendahkan diri di kayu salib. Lebih cocoklah kata-kata yang polos, jujur, sederhana, bersifat rendah hati, jernih, namun tidak kurang ilahi, hangat dan penuh cintakasih, sesuai contoh santu Paulus, yang terpanggil untuk berkotbah; dia berkotbah tidak dengan nilai tuturan dan kefasihan manusiawi, melainkan dengan daya Roh. Maka karena itu kami menghimbau kepada para pengkhotbah agar mereka menerakan Kristus yang terberkati itu di dalam hatinya dan membiarkan Dia memiliki dirinya. Dialah yang bersuara di dalam mereka dengan cintakasih yang berkelimpahan; bukan dengan kata-kata saja melainkan lebih-lebih dengan karya sesuai teladan Paulus, guru orang-orang bukan-yahudi. Dia itu tidak pernah mau mengkhotbahkan sesuatu yang bukan telah dirinci lebih dahulu oleh Kristus di dalam dirinya. Kristus, guru yang sempurna itu, mengajar kita juga demikian; bukan hanya dengan ajaranNya, melainkan juga dengan karyaNya. Yang luhur di Kerajaan Surga adalah mereka yang lebih-dahulu melaksanakan apa yang mereka mengajarkan dan mengkhotbahkan." (nr. 112).
Para pengkhotbah selayaknya menimba kekuatan dengan menemui Tuhan di dalam hidupdoanya dan dengan demikian menyemangati pewartaannya..
Demikianlah dapat kita baca:
"Dan apabila mereka mengalami kelesuan semangat rohaniahnya, karena terlampau sering bergaul dengan orang di dunia, maka hendaklah mereka undurkan diri ke kesunyian dan tinggal di situ sampai mereka teresapi dengan Roh Tuhan, terdorong dan tergerak oleh Roh Kudus lagi untuk menyebarluaskan anugerah ilahi ke seluruh dunia. Demikianlah, sekali mengikuti Marta, lagi mengikuti Maria, maka mereka hidup secara bergantian (cara vita mixta) seturut Kristus yang setelah berdoa di gunung turun menuju kenisah untuk berkhotbah di situ. Ya, Dia
turun langsung dari surga ke dunia untuk menyelamatkan bangsa manusia.." (nr 114)
Selanjutnya tercantum:
"Siapa yang tidak bisa membaca Kristus, buku kehidupan, dia berkekurangan ajaran yang seharusnya dia khotbahkan. Maka karena itu janganlah para pengkhotbah membawaserta banyak buku-buku; di dalam Kristus terdapat segala-galanya." (nr 116 )
Di mana konstitusi membicarakan pewartaan para saudara, maka setiapkali dititikberatkan bahwa daya tarik dan keberhasilan dari khotbah mereka itu tergantung dari hidup doa mereka. Maka lebih-lebih lagi dapat dibaca di nr 120:
"Agar supaya saudara saudara yang berkhotbah kepada orang, janganlah mereka sendiri termusnahkan, maka hendaklah mereka sewaktuwaktunya meninggalkan keramaian umat dan hendaklah mereka bersama Penebus yang tercinta mendaki gunung doa dan renungan; di situlah hendaklah mereka membiarkan dirinya bagaikan para serafin dipenuhi dengan cintakasih ilahi. Bila mereka sendiri telah penuh dengan semangat, baru mereka sanggup menyemangati orang lain."

4. Kini kita sampai soal yang penting, babaimanakah para kapusin pertama melaksanakan doa batiniah.

4.1.
Suatu kekhasan utama tentangnya terdapat pada doa, yang sesuai Konstitusi yang paling lama (nr.125) diucapkan oleh para frater sebelum pelajaran.- Banyak dari kita juga pernah mengucapkan doa tsb sebelum palajaran di zaman studi kita. - Di situ kita doakan: "Semoga aku pada pelajaran ini mencintai maupun mengenal Dikau; karena aku tidak mau mengenal Dikau kecuali untuk mencintai Dikau." ("in sancta lectione tantum te diligere quantum te cognoscere quia nolo te cognoscere nisi ut te diligam, Domine Deus Creator meus. Amen."). Doa batiniah mereka ternyata secara menyeluruh terpusat, terarah kepada: Mencitai Tuhan, berkembang dalam cintakasih demi Dia.
4.2.
Konstitusi menguraikan doa batiniah tsb dengan cara yang sangat sederhana tetapi jitu:
"Dan saudara-saudara hendak menyadarkan diri bahwa berdoa itu tak lain dan tak bukan berbicara dengan Tuhan dalam hati. Maka karena itu yang hanya omong dengan bibir kepada Tuhan dia tidak berdoa. Maka hendaklah masing-masing berusaha berdoa secara batiniah, sesuai ajaran Kristus, Guru paling utama, agar menyembah kepada Bapa abadi secara rohaniah dan benar, rajin berusaha agar hatinya terangkat dan kesediaan ternyalakan, lebih dari pada menguraikan kata-kata". (nr. 42)
Saudara kita orang Swis itu, Oktavian Schmucki, yang terkenal dan yang terpelajar dalam hal spiritualitas kapusin, dia menamakan uraian doa batiniah yang sederhana dan yang mengambil hati orang itu mutiara dalam literatur rohaniah. (6)
4.3.
Membiarkan hatimu berbicara kepada Tuhan itulah doa batiniah.
Pada tempat lain konstitusi mengatakan bahwa seorang saudara hina-dina yang benar-benar spirituil 'selalu berdoa' (nr.41); maka dengan demikian terbukalah bagi kita suatu pandangan batiniah indah: dunia penghayatan batiniah yang mengesankan dari para kapusin pertama. Kita tahu bahwa para kapusin pertama menilai tinggi kesunyian itu (nr. 44-45) juga demikian terhadap penyendirian (nr.77), status tanpa milik, suka saling membagi-bagi, solider dengan orang yang lebih miskin (nr. 67; 69-76; 80-87; 144; 57-62), berpantang dan sederhana dalam hal makan, minum dan pakaian, dan lagi dari fihak lain peka dalam merawat para saudara yang sakit, para korban sampar, dan ramah terhadap orang asing dan gelandangan (nrs. 50-55; 21-28;88-89). Penghayatan Injil dengan cara yang sangat radikal ini sudah barangtentu didukung dan didayakan oleh doa batiniah yang terkembangkan secara benar dan tepat; yaitu jujur dengan segenap hati berada pada Tuhan. Dan di konstitusi kedengaran yang sama itu di mana dikatakan:
"....demi cintakasih Kristus maka kami menghimbau kepada semua saudara-saudara kita, agar mereka dalam segala yang mereka perbuat, tetap perhatikan Injil suci, Regelemen ( pedoman hidup) yang telah dijanjikannya kepada Allah, serta kebiasaan yang suci dan luhur, lagi pula teladan yang suci dari para kudus, sambil mereka mengarahkan fikiran mereka, perkataan mereka kepada kehormatan dan pujian kepada Allah dan kepada keselamatan sesama. Dan Roh kudus akan mengajar mereka tentang segala hal." (nr 141)
Semangat religius yang sejenis itu kedengaran sebagai nada dasar di seluruh konstitusi yang pertama. Misalnya lagi pula:
"Mengingat bahwasanya Tuhanlah tujuan hidup kita, yang pantas ditujui dan dirindui oleh setiap insan yang perlu merombak diri dengan Dia sebagai model, maka kami menghimbau kepada semua saudara agar mengarahkan fikiran mereka kepada tujuan tersebut dan mengarahkan segala tujuan dan keinginan mereka kepadanya, dengan segala dorongan cintakasih tulen yang mungkin, agar supaya kita bersatu padu dengan Bapak kita yang mahabaik, secara segenap budi dan hati, dengan segala tenaga dan keutamaan dalam cintakasih yang sejati tak terhingga.." (nr 63).
4.4.
Generasi pertama kapusin-kapusin adalah orang pendoa. Itulah yang memberi kepada hidup yang berat mereka kehangatan dan keakraban manusiawi dengan Tuhan dan dengan sesama. Itulah yang menjadikan mereka kokoh dan bersemangat berusaha. Malah dekat kediaman mereka dibangunnya beberapa pondok terpencil, di mana saudara saudara, yang oleh pemimpin-pemimpin dianggapnya cocok, bisa menarik diri untuk hidup hanya dengan Tuhan ( nr 79).
Kami tahu bahwa mereka sehari-hari berulangkali mengucapkan doa singkat pada waktu-waktu tertentu; itu mereka lakukan juga pada waktu mereka sedang bekerja; dengan ucapan bibir atau, lebih secara batiniah, dengan ucapannya di dalam hati; dengan demikian mereka melestarikan hubungannya dengan Tuhan dan dengan sadar menghayatinya. Boleh dikatakan bahwa pada mereka ada pertalian afektif dengan Yesus, dengan Tuhan dan dengan umat: suatu cara hidup bercintakasih yang mengharukan. Dengan arti gambaran yang sama di atas ini kita menilai perhatian yang sangat dalam dari saudara tsb terhadap sengsara dan wafat, terhadap salib Yesus Kristus. Dari situ nyatalah kebaikan yang tak terhingga dari Tuhan bagi mereka dan bagi semua orang.
4.5.
Suatu uraian paling lama oleh seorang kapusin mengenai doa dengan judulnya yang berciri khas: "Arte de la unione", seninya bersatu dengan Tuhan. Pengarangnya ialah Johannes van Fano. Terbitnya pada tahun 1536, tahun penerbitan juga kostitusi-konstiusi yang paling lama. Pada buku tersebut sudah terdapat metodik untuk bisa tetap bergaul dengan Tuhan secara berulangkali mengucapkan doa-doa singkat dan hangat. Kesadarandiri orang Belanda dapat diperkuat sedikit jika kita tahu bahwa Johannes van Fano pun terpengaruh oleh Devosi Modern yang berkembang di Nederland dan terpengaruh oleh Saudara hinadina Belanda dan penulis mistik Hendrik Herp. Terhadap merekalah kapusin-kapusin pertama, yang memperhatikan doa batin dan doa afektif, lebih-lebih pergaulan penuh cintakasih dan pertalian dengan Tuhan dan Yesus Kristus, sangat berutangbudi.
Metodik doa aspiratif sepanjang hari - 'toegheestingen'- terdapat juga pada kapusin kapusin Nederland di dalam buku pedoman para novis, buku yang sering diterbitkan yaitu 'Geestelycke Oeffeninge voor de novitien'. Dengan apa yang dikakakan di atas ini sebagai latarbelakangnya, maka kini dapat kita mengetahui bahwasanya dari doa singkat yang diucapkannya sepanjang hari, berkembanglah suatu hidup cintakasih yang jauh lebih kaya daripada orang semula menyangkanya.
4.6.
Cara hidup ini dengan "selalu berdoa" masih bertalian erat dengan cara hidup kristiani pada zaman dulu; menurut konstitusi itu sebagaimana lazim pada saudara dina yang rohaniahnya benar-benar hidup. Itu berpangkalan pada "doaYesus" seperti itu sudah dilakukan oleh woestijnvaders (para rohaniwan zaman kuno yang tinggal di padang gurun.). Tujuan mereka adalah melaksanakan apa yang dikatakan Yesus, bahwasanya mereka hendaknya selalu berdoa (Lc 18.1).
Mereka melakukannya, entah dengan mengucapkannya entah dalam hati, secara terus-menerus mengulangi doa:'Yesus Kristus Putera Allah kasihanilah aku'. Dengan demikian terkembangkanlah pada mereka suatu cara hidup yang terus-menerus bertalian dengan Tuhan.

5. Pada uraian di atas ini kami menyelidiki sumber rahasiawi dari yang mana

para kapusin pertama menimba dayahidupnya. Kami kiranya telah menemukannya.

Jalan apa saja mereka menempuhinya demi memperoleh suatu iklim hidup di mana dapat berkembang dan menjadi sangat subur pertalian cintakasihnya terhadap Tuhan, terhadap Yesus Kristus dan terhadap sesama. Bagi mereka: berdoa adalah dengan hatinya berada bersama dengan Tuhan, dengan Yesus Kristus, lagipula dengan sesamanya. Biar hatinya berbicara kepada Tuhan, dan biar Tuhan berbicara kepada hatinya, dan dengan demikianlah mereka berkhotbah dan mendampingi rakyat.
Cintakasih dari Tuhan dan kepada Tuhan itulah rahasia cara hidup mereka, sumber yang membawa hidup bagi daya hidup-religius-nya.
Dengan demikian jelaslah jadinya bahwasanya pada abad yang ke tujuhbelas di Belanda pula cara hidup kapusin berkembang subur; terdapatnya pengkhotbah penkhotbah yang menonjol dalam daya pengaruhan; terdapat pula pengarang-pengarang rohaniah serta penasihat-panasihat yang paling awal. Ahli-ahli sejarah tertentu itu malah mengatakan bahwa mereka pada waktu itu merupakan suatu sekolah dengan spiritualitas kapusin yang bercirikhas. (7)

6. Dari antara pengarang- pengarang rohaniah yang awal itu saya hendak menyebut satu nama:

Joannes Evangelista dari 's-Hertogenbosch file:///C:kapucijnen/kap18.html (1588-1635) Dialah ini pengarang mistik yang pertama dan yang paling awal di antara kapusin kapusin Belanda. Pada awal abad ke tujuhbelas dia, selaku bapa pemimpin para novis dan pedamping rohaniah bagi saudara2 mudah yang telah berkaul, berperan amat penting dalam pendidikan religius propinsi muda Vlaams-Nederlands. Buku-bukunya adalah terutama hasil kumpalan uraian tertulis dari kuliah-kuliah tentang hidup rohaniah yang dia pernah beri kepada saudara- saudaranya. Kepada mereka dia menyajikan bahan yang berbobot. Secara cermat dia mengantar mereka ke penghayatan yang paling menginti dalam perpaduan kasihmesra dengan Tuhan. Karya utama dari tangan dia adalah: 'Het Rijck Godts inder zielen...'.
Sebagaimana dari judul buku ini sudah jelas, maka Joannes Evangelista menganggap hidup berpadu dengan Tuhan itu adalah tujuan eksistensi manusiawi dan perwujudannya. Secara jernih dan sistimatis dia menguraikan hingga mendetil tentang syarat-syarat yang perlu dipenuhi oleh manusia yang mencari Tuhan supaya terwujudlah tujuannya. Itu adalah cara radikal yang khas pada bermatiraga, yaitu menghampakan diri dari segalanya yang bukan Tuhan. Penghampaan ini terdiri dari empat bagian: pertama-tama secara tuntas menyampingkan seluruhnya ciptaan, penyerahan diri kepada Tuhan secara menyeluruh, karena cintakasih tulen dan iman sejati. Selain dari itu, maka Joannes Evangelista secara terencana dan edukatif mengantar manusia yang mencari Tuhan itu langkah demi langkah menuju penyatuan langsung dengan Tuhan. Sesudah suatu proses yang meluas dalam hal pemurnian dan penyadaran, maka manusia tsb mencapai penampakan langsung dan penikmatannya kehadiran Tuhan.
Lantas Joannes Evangelista menguraikannya dengan saksama bagaimana manusia yang dikaruniai oleh Tuhan, sepanjang hari dapat menghayati dan mengalami bersatunya dengan Tuhan dalam Cintakasih tulen dan Iman sejati sewaktu dia melakukan pekerjaan yang sederhana, termasuk pekerjaan yang sangat intensif dengan sepenuhnya bertanggungjawab. Uraiannya tsb terdiri dari enam fasal.
Di sini kami tidak ada ruang untuk mengutip Joannes Evangelista secara panjang lebar. Namun hendaknya Anda dapat mengecicipi sesuatu dari cara jitu orang mahir itu dengan yang mana dia menggambarkan bersatunya manusia dengan Tuhan secara paling mendalam.
Bilamana manusia yang sedang mencari Tuhan akhirnya dikaruniai dengan mengalami kehadiran Tuhan dan kerajaan surgawi di dalam dirinya, maka Joannes Evangelista menggambarkannya seperti berikut ini:
Manusia batiniah itu mengenal, menyukai suatu realitas, suatu keindahan, kebaikan dan kegembiraan, yang lebih mulia dan lebih sempurna daripada segala sesuta yang pernah dikenalnya, pernah dicicipinya dan dialaminya. Namun dia kurang sanggup mengungkapkannya dengan kata-kata bagaimana dan apa objeknya dan bagaimana dia mengalami kehadirannya. Dia hanya yakin bahwa itu adalah asal dari segala yang tercipta, kebijaksanaan, keindahan, kebaikan, dan kesempurnaan. Dan banyak lagi terpendam padanya, takterhingga lebih daripada ciptaan Tuhan yang nampak. Manusia batiniah mengalami kehadiran Tuhan bukan karena bayangan atau rinduan, bukan pula karena sentuhan, celera atau rasanya. Dari sudut pandangan yang lain dia mengalami kehadiranNya memang karena semuanya yang tersebut, malah jauh lebih dari itu. Dia 'kan secara paling mendalam berhubungan dan bersatu dengan Dia setaraf kemunkinan baginya dan bagi kepekaannya. Meski dia tak dapat menanggapi Tuhan sebagai objeknya secara lahiriah, namun secara batiniah dia memiliki suatu keyakinan mengenaiNya yang tak terungkapkan; dan keyakinan itu memberi kepadanya jauh lebih banyak kepastian daripada dia dapat memperolehnya lewat pancaindranya (283) atau kemampuannya, lewat buku atau guru. Dan dalam dirinya dia berkeyakinan bahwasanya segala doa dan pujian oleh gereja itu menjadi hak bagi Yang Ada yang tak nampak itu, yang secara batiniah hadir baginya. Lagi pula dia mengalami dalam dirinya suatu rasa hormat yang begitu tinggi terhadap Yang Ada itu sehingga dia membayangkan seolah-olah dia sedang mengadapi tahta Ilahi. Dan kepadanya tidak diperkenankan melakukan sesuatu, baik secara batin maupun secara lahir, apa yang tak berani dilakukannya terhadap Yang Ada itu yang tidak nampak baginya. Rasa hormat itu dan pengalaman batin itu tidaklah berasal dari manusia batiniah itu, melainkan itu secara spontan tertimbulkan oleh Yang Ada yang berada di dalam ketersembunyiannya.
Demikian manusia batiniah yang teranugerahi dengan pengalaman kehadiran Tuhan di dalam dirinya itu secara sempurna diresapi oleh Tuhan dan dia merasa total puas dalam segala keinginannya. Dan dia tidak lagi khawatir apa yang perlu dia lakukan supaya Tuhan berkenan akan dia. Habis dia tahu bahwa dia tidak sanggup memberi atau membuat lebih daripada apa yang telah dia telah memberikannya dan membuatnya; dan dia tahu bahwa Tuhan pun tidak mungkin menuntut lebih darinya. Habis dia telah mempersembahkan sepenuhnya segala yang dia miliki, segala adanya, segala yang disanggupinya. Dia hanya berada selaku Kehampaan belaka. Dia sadar bahwa Tuhan sepenuhnya berkenan akan dia jika Kehampaan itu selalu dan sepenuhnya dilestarikannya. Maka karena itu inilah satusatunya usahanya dan penggemblengannya. Dan tidak mungkin menginginkan apapun dari Tuhan, atau memohon sesuatu yang merupakan kepentingan sendiri. Seluruh doanya adalah semoga dia tidak pernah akan dipisahkan dari Kehampaannya yang kini telah diperolehkannya. Dia berdoa agar dia akan memperolehnya secara lebih mendalam dan menetap; agar terlaksanalah kehendak Tuhan padanya dan pada semua orang di segala masa dan segala abad.
Seandainya bunyinya doanya lain, maka itu akan menimbulkan bayangan-bayangan pada dirinya, dan dia akan menghilang dari Kehampaannya. Maka itu sangat menenangkannya dan mendatangkan rasa damai padanya.
Terdapat juga bahwasanya Joannes Evangelista menganggap hidup-bersatupadu dengan Tuhan itu adalah watak dan alam manusia pada hakikinya dan asalmulanya. Pada alam manusia tertanam suatu rasa-dorong kepada Tuhan, suatu 'minnelijcke cracht' dan ' neiginghe’', yang mengarahkannya bagaikan jarum pedoman.Yang perlu dikerjakannya oleh manusia adalah melepaskan segalagalanya yang dapat menghalangi penyerahan kepada Tuhan demi cintakasih tulen.
Itulah suatu proses pemurnian yang radikal. Itu adalah menujui keadaan asalmulanya; untuk itulah manusia diciptakan Tuhan.
Berpadu-dengan-Tuhan tersebut terjadi pada tingkat cintakasih sejati dan iman tulen. Dan Tuhanlah yang menanamkan cintakasih sejati dan iman tulen tersebut dan dialah yang membimbingnya sampai selesai. Bagi manusia itu terbukalah suatu dunia baru samasekali, dunia di mana manusia itu dapat mengalami Tuhan. Joannes Evangelista menggambarkan seluruh kejadian yang peka dan batiniah itu secara amat halus membedakan satu dari yang lain, secara tertib, secara rasionil, malah secara seakan-akan menganggapnya begitu biasa saja. Dia bekerja seperti dosen yang menguasai dan mengetahui apa yang dibicarakannya dan diuraikannya. Penjelasan-penjelasannya yang didaktis disertai dengan banyak perumpamaan dan contoh-contoh, itu gayanya metodik devosi modern yang praktis dan didaktis. Lagipula Joannes Evangelsta menyajikan seluruh perkembangan hidup rohaniah sampai tingkat mistik yang paling dalam; itu disajikannya secara rasionil, berkeseimbangan, bercirikhas orang Belanda. Dengan kepastian dan sangat meyakinkan dia memperkenalkan kepada saudarasaudaranya yang muda - pun juga kepada orang sederhana maupun ilmiawan di lingkungannya - rahasia kehidupan pribadinya: bahwasanya orang yang hidup berkontemplatif, sekaliguspun bekerja keras, dapat bersatupadu dengan Tuhan setiap saat dan di mana-manapun. Dia menyampaikan pelajaran bagi kita bagaimana kita dapat menghayati segala bagian dan segi hidup insani secara teologis, sehingga - jangan terkejut - itu langsung menyentuh kehidupan kekal.

7. Akhirnya beberapa soal.

Kalian boleh mengetahuinya; di Brussel saya berkesempatan penuh untuk mempelajari kehidupan kapusin-kapusin pertama. Sadar atau tak sadar, dari situ terbawalah padaku kesan kesan negatif sehingga saya merasa segan malah takut terhadap cara hidup semula tsb. Cara hidup primitif tersebut merindingkan; itu berat, menghampiri pengasingan dari dunia.Kemungkinan besar kalian juga pernah menemukan gambaran negatif seperti itu tentang cara hidup para kapusin kita yang awal mula?
Apakah itu masih sesuai pada zaman kita sekarang ini?
Secara pribadi saya mulai mendugakan kemungkinannya. Apakah tafsiranku, terhadap hidup yang ketat dan berat kapusin-kapusin yang dulu itu, tidak beratsebelah dan selayang pandang dan sungguh sangat tidak benar.?
Apakah saya cukup melihat dan memperhatikan, dulu dan sekarang, nilai dan luhurnya para reformator pada abad ke 16 itu ? Pada waktu itu mereka berhasil mengambil hati, mendapatkan kepercayaan dari para reformator gereja yang luhur seperti H. Carolus Borromaeus serta bapak bapak peserta konsili Trente dan lagi dari sejumlah yang tak terhitung dari umat kristen yang saleh.
Bolehkah saya mengajukan suatu pertanyaan juga kepada kalian?
Apakah mujizat itu mungkin terjadi lagi di zaman kita sekarang ini?
Suatu reformasi diri kita sendiri dan suatu reformasi gereja-gereja dan masyarakat.?
Apakah saudara-saudara dari waktu itu - mereka yang membara dalam doa dengan jujur hidup seturut Injil- dapat membantu kita mulai bergerak dalam hal tersebut.?
Jawabannya adalah pada kita semua..

Noten

(1)Optat de Veghel, o.f.m.cap.,La réforme des frères mineurs capucins dans l'ordre franciscain et dans l'èglise, in: Collectanea Franciscana, jg.35 (1965), blz. 5-108; vooral blz 19.
(2) De Geschriften van Franciscus van Assisi, Haarlem (1982), blz 172-173.
(3) De Geschriften van Franciscus van Assisi, Haarlem blz 73.
(4) De Geschriften van Franciscus van Assisi, Haarlem blz 73, voetnoot 22.
(5) Optatus, o.f.m.cap., De spiritualiteit van de capucijnen in de Nederlanden gedurende de XVIIe en XVIIIe eeuw, Utrecht -Brussel ( 1948 ), blz. 82.
(6) Ottaviano Schmucki, o.f.m.cap., Preghiera e vita contemplativa nella legislazione e vita dei primi frati minori cappuccini, Roma (1989), blz.20.
(7) K.Porteman, Nederlandse mystici uit de 17e eeuw of de mystici van 'Den Niet', in: Ons Geestelijk Erf, Dl. XLVII (1973), blz. 386-407, vooral blz 385-387.
(8) Meer eigentijdse hertaling van 'Het Rijck Godts inder zielen'...’, Leuven, (1639), hoofdstuk 21, blz. 282-284.


Pro manuscripto Dr Jan Kampschreur, kapusin

Brussel, 21 maart 2000